
Awalnya.. Aku menulis noteku ini di sebuah akun Facebookku di Salsa's Lufreehc. Namun, tersirat di otakku "Kenapa enggak di tulis di blog ya ?" dan karena setelah sekian lama vacum dari mengisi blog dan online di karenakan sibuk dengan Try Out dan Ujian.. Akhirnya baru terwujud sekarang. Semoga postingku kali ini bermanfaat yaaa..
Wahai, pemilik nyawaku.. Betapa lemah dan tak berartinya diriku di hadapanMu.. menanti ridho dan cinta dariMu..
Cobaan demi cobaan.. Rintangan demi rintangan.. Engkau beri kepadaku.. Namunku hanya bisa melewatinya dan berpasrah diri kepadaMu untuk menuju jalanMu ya Allah..
Pagi ini ku termenung di jendela kamarku.. Dan menatap sekeliling, kemudian melihat ke arah atap dunia dengan suasana matahari yang baru menyongsong dan menyinari bumi dengan cahayanya yang masih redup. Suara ayam yang berkokok riuh, suara klakson motor dan mobil yang berlalu lalang, bahkan suara ceramah masjid yang terdengar melengkapi suasana pagi itu. Subhanallah, peristiwa di pagi itu saja sudah membuktikkan bahwa Engkau maha melihat, maha mendengar, maha pengasih, maha penyayang, maha pencipta, dan maha segala-galanya.
Aku termenung lagi dan kembali ke masa lalu, dan tersadar, ku mengingat semua kesalahan-kesalahanku padaMu, pada orang tua, teman, guru dan orang-orang di sekitarku. Entah apa yang bisa ku perbuat untuk menebusnya.. Seakan tak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki semuanya.
Ya Allah... Maafkanlah hambamu ini yang khilaf atas nikmatMu, yang salah atas ridhoMu. Aku hanya seorang manusia biasa. Yang tak sempurna dan banyak sekali catatan-catatan atas kekhilafanku. Aku hanya seorang anak kemarin sore yang baru saja mengetahui islam. Bahkan di mataMu, mungkin saja aku hanya setitik debu yang tak berarti apa-apa dan dapat musnah di terpa angin. Namun, di lubuk hatiku yang paling dalam. Aku masih menyimpan sebuah harapan. Harapan tuk menantikan cintaMu...
Ya Rob.. Pagi ini ku menuliskan surat cintaku ini untukmu. Namun, aku tak mampu untuk mengirimkannya ke langit ke tujuh, yang biasa aku lakukan dengan bantuan Pak Pos untuk mengirim surat-suratku ke alamat yang jelas. Namun, ku tahu. Bahwa Engkau maha mengetahui, maha melihat, dan maha mendengar. Dan ku putuskan untuk menulisnya di sini.
Dan aku menuliskan beberapa harapanku, di surat cintaku ini...
Ya Allah.. Ampunilah segala kesalahanku, kekhilafanku, dosa-dosaku Ya Allah. Ya Allah.. Jika sangkakala nanti sudah di kumandangkan.. "Yauma Yakununna Sukhal Farasillmab' Tsus.." "Watakunul Jiba Lukal Ikhnil Man Fus.." Dan nasib manusia seperti sepenggal ayat tadi. Yang terdapat di surat Al-Qari'ah ayat 4 dan 5. Yang artinya, "Pada hari kiamat itu, manusia seperti laron yang berterbangan" "Dan, gunung-gunung seperti bulu yang di hamburkan" dan sekujur tubuhku merasa lemas mendengarnya. Namun ku tahu, kau akan memberikan yang terbaik untukku.
"Fa' Amma man' Sakhulats Mawa Zinuh" "Fa Huwa Fi.. I' Syatir Ra' Diyah" yang artinya "Maka, adapun orang yang berat timbangan kebaikannya," "Maka, dia berada dalam kehidupan yang memuaskan(senang)" Ya Allah.. masukkanlah hamba ke dalam golongan orang-orang itu Ya Allah. Dan bisa memberikan sebuah mahkota untuk orang tuaku. Dan memuliakannya di surgamu.
Ya Allah.. Tak terasa.. Waktu beputar begitu cepat. UN dan US sudah menanti ke siapanku. Namun, aku masih belum mampu menghadapinya. Masih banyak hal yang belum ku ketahui. Namun.. Aku harus siap menghadapinya yang tinggal hitungan jari saja. Ya Allah berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapinya Ya Allah..
Ya Allah.. semakin lama aku tumbuh menjadi dewasa.. Begitu pula dengan orang tuaku.. Yang semakin lama semakin lemah, rambutnya mulai memutih, kulitnya mulai keriput, dan penyakit yang tak ada obatnya mulai mengidap di otaknya yaitu pikun. Ya Allah.. berikanlah hamba dan orang tua hamba umur yang panjang Ya Allah.. Berikanlah hamba kesempatan untuk membahagiakan orang tua hamba Ya Allah.. Berikanlah hamba kesempatan untuk menghajikan orang tua hamba Ya Allah.. Izinkanlah hamba menjadi orang sukses dan membuat orang tua hamba bangga Ya Allah.
Ya Allah... Sekian banyak cita-cita yang hamba tulis di lembaran kertas kosong yang kini penuh dengan tulisan, harapan dan impianku, ku tuliskan semua di sana, sesuai dengan saran Kak Aris Ahmad Jaya yang sudah membuka mata, hati, dan pikiranku untuk terus maju melangkah ke depan. Dan aku berharap suatu saat nanti kertas itu akan penuh dengan coretan-coretan tanda bahwa mimpiku sudah tercapai.
Ya Allah hamba hanya seorang manusia yang lemah.. Dan hanya bisa berharap, bermimpi dan berangan. Namun, aku tahu Engkau maha mendengar dan maha pengasih lagi maha penyayang. Aku yakin Engkau pasti kan mengabulkan doa-doaku ini Ya Allah. Tetapi hamba tahu.. bahwa Engkau takkan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya sendiri. Dan hamba akan berjuang keras untuk menggapainya.
Mungkin, sampai di sini surat cintaku ini untukMu Ya Allah. Aku tahu Engkau maha pengabul doa-doa kami. Amin Ya Rabbal Alamin..
Seperti yang ku tuliskan di alinea ke-9. Semakin lama orang tuaku semakin tua. Dan jika ajjal telah menjemputnya. Hamba hanya bisa menyesal.. Hamba banyak membuat salah kepada mereka Ya Allah. Hamba banyak khilaf kepada mereka Ya Allah. Hamba banyak menyepelekan nasehat-nasehat mereka Ya Allah. Ya Allah jika malaikat telah mencabut nyawanya.. Hamba hanya bisa menangis melihat kepergian mereka. Melihat seluruh tubuhnya terbujur kaku dengan wajah yang pucat pasi tanpa ekspresi. Perjuangan mereka yang telah mereka lakukan, sungguh mebuat hamba menyesal.. Karena tak mampu membalasnya..
Bunda.. Yang rela melahirkan dan membesarkan hamba menjadi seperti ini. Bunda yang rela mangandung selama 9 bulan.. Bunda yang gelisah di saatku sakit. Bunda yang merindukanku di saat beliau pergi bekerja di luar kota. Bunda yang memberikanku susu asi... Bunda yang selalu usil, dan membuatku jengkel dan kadang ku sering membentaknya. Namun, itu adalah ke khilafanku Ya Allah. Bunda yang rela menghabiskan uangnya untuk transport dan pulang ke rumah walau harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Seminggu sekali pulang menggunakan pesawat saat bunda masih menjalani tugas di Bangka. Bunda yang selalu memarahiku jikalau aku nakal.
Ayah yang rela membanting tulang demi memberikanku sarana pendidikan yang layak sehingga aku bisa mecari ilmu. Ayah yang rela pergi pagi, pulang malam mencari uang untuk membiayai pendidikanku. Ayah yang rela pulang pergi luar negeri demi mencari nafkah untuk memberikanku tempat les yang berkualitas. Ayah yang selalu memotifasiku jika aku lengah. Ayah yang selalu mendukung keputusanku. Ayah yang selalu mendoakanku untuk menjadi orang sukses kelak.
Mereka adalah orang tua terbaik yang aku punya. Walaupun pernah terjadi keretakkan dalam rumah tangga kami. Tapi itu tak menjadi penghambat bagiku untuk terus maju.
Jika, Engkau telah berbisik kepada Malaikat untuk mengambilnya dari sisiku. Aku akan teramat sangat sedih. Dan aku akan menjadi orang pertama yang menangis melihatnya. Aku akan memandikan mereka yang terkhir kali, menshalati mereka untuk pertama kalinya. Melihat mereka terbungkus dengan kain kafan berwarna putih. Dengan bendera kuning yang berkibar tanda berduka. Dan kan ku cium kening mereka dengan tetesan air mata dan kesakitan hatiku yang mendalam. Dan aku akan sangat kecewa melihat mereka terkurung di sebuah keranda mayat dan di bawa ke sebuah TPU dan melihat semua orang berduka. Di saat waktunya mereka di kubur, aku akan menjadi orang pertama yang menutup mata dan menangis tanda tak sanggup melihat semua itu, dan berharap itu hanya mimpi belaka. Entah apakah aku akan pingsan di saat itu. Namun.. Tersadar harus ku relakan mereka pergi meninggalkan diriku untuk selamanya. Dan aku bertekad unuk menyusulnya di surga nanti. Tetapi, sebelum itu terjadi aku ingin membahagiakan mereka, membuat mereka tersenyum puas melihat seorang anaknya yang kini sudah menjadi seorang yang sukses. Dan aku ingin meminta maaf kepada mereka atas semua kesalahanku. Perjuangan mereka yang takkan mungkin ku balas.. Dan aku hanya bisa berdoa untuk menempatkan mereka di sebuah tempat yang terbaik yaitu surga.
Orang-orang yang telah berjasa mendidikku di bangku sekolah tanpa mengenal lelah. Seorang guru yang setiap pagi datang ke sekolah dan menjadi relawan pendidikkan. Mengasuh anak didiknya dan memegang tanggung jawab yang besar. Yang selalu tegang, menjelang ujian datang dan memperhitungkan nasib anak didiknya apakah lulus atau tidak. Yang kadang sering naik darah karena kerusuhan yang kami perbuat. Yang selalu memberikan cerita, pengalaman, motivasi yang takkan pernah terlupakan. Kesabarannya telah teruji.. Dan kami tak mau membuat tenaga mereka yang terkuras, terbuang sia-sia dengan nilai jelek. Dan suatu saat nanti kami berjanji akan menjadi orang sukses dan menebus jasa-jasa mereka selama ini. Seperti kata Kak Aris "Nanti.. 10 atau 20 tahun lagi Ummul Quro enggak menyediakan tempat parkir mobil lagi melainkan lapangan terbang untuk pesawat dan helikopter kalian" dan kami ingin melihat mereka bahagia dengan melihat kami lulus di Universitas Terbaik yang kami pilih. Dan membuat mereka kagum dan termenung melihat perubahan besar terjadi di dalam diri kami. Dan aku sendiri memilih Melbourne University dan Harvard University. Dan aku ingin menjadi dokter yang hebat. Dan kami berjanji akan mencetak nilai-nilai yang membuat mereka ternyum lebar dan puas melihatnya.
Dan sahabat-sahabatku yang selalu ada di sampingku. Yang selalu menemaniku di setiap saat dan selalu menjadi pendegar yang baik bagiku. Yang selalu menghiburku di saatku sedih. Pertemuan yang terjadi dan perpisahan yang akan datang, membuatku untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Kenangan-kenangan manis yang terjadi takkan pernah terlupakan. Tawa dan canda yang melengkapi suasana bahagia. Kerja keras kita untuk mendobrak UN dan US dan mengahasilkan hasil yang manis pula. Dan kami juga berjanji akan bertemu lagi dengan tekad yang telah di impikan sejak dulu.
Dan terakhir untuk Kak Aris Ahmad Jaya yang sudah berhasil membuatku kagum dan berhasil membuatku lebih optimis dari sebelumnya. Training motivasi yang sangat berarti untukku juga sudah menjadi cikal bakal kesuksesanku. Sudah 2 pertemuanku bertemu Kak Aris. Dan semoga Kak Aris bisa tersenyum melihat motivasinya berguna sehingga aku dan teman-teman bisa menggapai mimpi yang menembus langit bumi.
Terima kasih semuanya, sudah berjasa sekali di kehidupanku. Dan aku akan membuat semuanya tersenyum puas melihatku. Aku berjanji, dan akan kutepati itu. Aku hanya mampu menuliskan surat cintaku ini untuk kalian. Dan tersadar aku telah meneteskan air mata yang cukup deras menulisnya. Dan sekian suratku ini...
